Showing posts with label Tugas. Show all posts
Showing posts with label Tugas. Show all posts

Wednesday, May 13, 2015

Pengambilan Keputusan Dalam Organisasi

Source: www.aliem.com


Terkait organisasi, sudah tentu kegiatannya tidak jauh dari yang namanya rapat, berdiskusi, membuat acara, dll. Di samping rapat dll, kegiatan berorganisasi tak jauh-jauh dari yang namanya pengambilan keputusan.


Definisi dan Dasar Pengambilan Keputusan

Menurut Davis(dalam Syamsi 1995) keputusan adalah hasil pemecahan masalah yang dihadapi dengan tegas. hal ini terkait dengan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan mengenai ¨apa yang harus dilakukan¨ dan seterusnya mengenai insur-unsur perencanaan. Keputusan pun dapat berupa tindakan terhadap pelaksanaan yang sangat menyimpaung dari rencana semula. Keputusan yang baik pada dasarnya dapat digunakan untuk membuat rencana dengan baik pula.


Sedangkan Syamsi (1995) menyimpulkan bahwa keputusan merupakan itu sesungguhnya merupakan hasil proses pemikiran yang berupa pemilihan satu di antara beberapa alternatif yang dapat digunakan untuk memecahkan masalah yang dihadapi.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pengambilan keputusan merupakan proses pemilihan satu alternatif dari beberapa alternatif untuk pemecahan masalah. Pentingnya pengambilan keputusan dalam organisasi sebagai langkah untuk mengarahkan organisasi agar dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya.

Suatu keputusan sangat bergantung dari masalah yang dihadapi juga bergantung pada individu yang membuat keputusan. Menurut George Terry (dalam Hasan, 2002) dasar-dasar pengambilan keputusan adalah :
  • Pengambilan keputusan berdasarkan intuisi
  • Keputusan berdasar intuisi sifatnya subjektif, sangat terpengaruh oleh tingkat pengetahuan, latar belakang, dan faktor lain yang bersangkutan dengan kepribadian individu pembuat keputusan.

    Keuntungannya waktu yang diperlukan untuk membuat keputusan relatif cepat, jika individu pengambil keputusan punya ḱepekaan perasaan yang cukup tinggi  maka keputusannya cenderung tepat, dasar keputusan ini cocok untuk masalah-masalah yang bersifat kemanusiaan. Namun, keputusan yang diambil berdasarkan intuitif sulit diukur kebenarannya dikarenakan sulitnya mencari alat pembandingnya.
  • Pengambilan keputusan rasional,
  • Dasar pengambilan keputusan ini banyak berkaitan dengan pertimbangan dari segi daya guna. Seperti masalah mengenai berapa sebaiknya perbandingan jumlah polisi dibanding banyaknya penduduk, dll. 
    Keputusan rasional lebih bersifat objektif dibandingkan intuitif, Dalam masyarakat juga organisasi, keputusan yang rasional dapat terasa apabila kepuasan optimal masyarakat maupun anggota organisasi dapat terlaksana.
  • Pengambilan keputusan berdasarkan fakta,
  • Keputusan berdasarkan fakta maupun data yang cukup dapat dikatakan sebagai keputusan yang cukup, solid, dan baik. Namun untuk mendapatkan fakta maupun data yang cukup merupakan hal sulit. 
    Meski fakta maupun data sudah didapat, hal tersebut masih perlu diolah dengan cermat oleh tenaga yang terampil dan terlatih yang mampu mengolah data menjadi informasi yang canggih.
  • Pengambilan keputusan berdasarkan pengalaman, 
  • Masalah yang ditemui terkadang masih berkaitan dengan masalah-masalah yang sebelumnya pernah dihadapi. Karena itu, pengalaman dalam memecahkan masalah dapat dijadikan pedoman dalam penyelesaian masalah. Jika individu pengambil keputusan memilki banyak pengalaman, tentu pemecahan masalah menjadi lebih mudah. Idividu tersebut dapat belajar dan memilih berbagai macam alternatif penyelesaian masalah yang tepat.
  • Pengambilan keputusan berdasarkan wewenang.
  • Keputusan berdasarkan wewenang memiliki beberapa keuntungan, yakni banyak diterima bawahan (meski dilakukan dengan senang hati, ataupun terpaksa), bersifat otentik, dan dikarenakan didasarkan wewenang resmi maka sifatnya lebih permanen. Namun keputusan ini berpotensi menimbulkan sifat diktator.



Jenis-jenis Keputusan Organisasi

Jenis keputusan dalam sebuah organisasi dapat digolongkan berdasarkan banyaknya waktu yang diperlukan untuk mengambil keputusan tersebut, bagian mana organisasi harus dapat melibatkan dalam mengambil keputusan dan pada bagian organisasi mana keputusan tersebut difokuskan.

Secara garis besar jenis keputusan terbagi menjadi dua bagian yaitu :
  • Keputusan Rutin
  • Keputusan Rutin adalah Keputusan yang sifatnya rutin dan berulang-ulang serta biasanya telah dikembangkan untuk mengendalikannya.
  • Keputusan tidak Rutin
  • Keputusan tidak Rutin adalah Keputusan yang diambil pada saat-saat khusus dan tidak bersifat rutin.



Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pengambilan Keputusan

Pengambilan keputusan dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya:
  • Keadaan intern organisasi
  • Keadaan intern organisasi akan sangat berpengaruh terhadap pengambilan keputusan. Keadaan ini meliputi dana yang tersedia, kemampuan karyawan, kelengkapan dari peralatan, struktur organisasi, ketersediaan informasi yang dibutuhkan.
  • Tersedianya informasi yang diperlukan
  • Masalah di dalam organisasi muncul pada beraneka ragam situasi maupun kondisi.  Diperlukan pengetahuan mengenai sebab akibat masalah, informasi ini harus lengkap sesuai kebutuhan, terpercaya kebenarannya, dan masih aktual. Berdasarkan informasi ini pengambilan keputusan dapat dilakukan dengan baik.
  • Keadaan ekstern organisasi
  • Dalam sistem organisasi terbuka, kegiatan organisasi tidak dapat terlepas dari pengaruh ekstern. Kondisi lingkungan di luar organisasi dapat berupa keadaan ekonomi, sosial, politik, hukum, budaya, dsb.
  • Kepribadian dan kecakapan pengambil keputusan
  • Kepribadian dan kecakapan individu pengambil keputusan sangat mempengaruhi ketepatan keputusan yang diambil. Hal ini meliputi penilaian, kebutuhan, tingkat kecerdasan, kapasitas, kapabilitas, keterampilan, dsb.
    Nilai kepribadian dan kecakapan individu tersebut tercermin pada keputusan yang diambilnya. tipe pengambil keputusan ini menurut Eric Form (dalam Syamsi) dapat dikelompokan menjadi:
  • Tipe ketergantungan,
  • Tipe ini tidak memiliki pendirian yang tegas, dikarenakan kurang menguasai masalah yang harus diputuskan. Ia memandang orang lain atau bawahannya lebih mampu dalam memecahkan masalah. Sehingga tipe ini sangat bergantung pada pendapat bawahan.
  • Tipe eksploitatif,
  • Tipe ini mengeksploitasi ide orang lain sebagai idenya sendiri untuk kepentingan pribadi, karena ketidakmapuannya dalam pengambilan keputusan.
  • Tipe tabungan,
  • Tipe ini cenderung menyimpan idenya sendiri (tidak membagi kepada orang lain) untuk kepentingan pribadi dan untuk memperkuat posisi dan wibawanya dalam organisasi.
  • Tipe pemasaran,
  • Tipe ini memamerkan idenya atau keputusannya dengan maksud agar mendapatkan pujian dari orang lain agar dipandang sebagai pimpinan yang berwibawa.
  • Tipe produktif,
  • Tipe ini memiliki kemampuan maupun keterampilan dan pandangan yang jauh kedepan. Tipe ini sangat peduli dan dapat bekerja sama dengan bawahan, penih inisiatif serta kreatif.



Implikasi  Manajerial

Kegiatan di dalam organisasi dalam mencapai visi dan misinya, tentunya mengalami banyak permasalahan yang harus dihadapi. Dalam hal ini setiap masalah memiliki cara tersendiri untuk diselesaikan. Keputusan yang diambil oleh seorang pemimpin organisasi terkait manajerial organisasi sangat dipengaruhi oleh cara atau dasar pengambilan keputusan.

Terkait dengan berbagai dasar pengambilan keputusan yang dapat dipilih, memang terdapat banyak kelebihan dan kekurangan dari masing-masing cara. Namun kekurangan dan kelebihan ini agaknya dapat disiasati dengan memilih cara yang tepat disesuaikan dengan masalah yang sedang dihadapi.

Misalnya masalah yang cenderung membutuhkan keputusan yang cepat, dapat dilakukan pemilihan keputusan dengan dasar intuitif maupun pengalaman. Lain halnya dengan masalah-masalah yang sangat membutuhkan fakta-fakta dan informasi yang akurat demi terselesaikannya masalah.

Disamping dasar pengambilan keputusan, terdapat pula faktor-faktor yang mempengaruhinya. Setiap faktor mungkin memiliki kekurangan, namun mungkin dapat diatasi dengan memaksimalkan faktor lain yang sama pentingnya.

Sebagai pengambil keputusan, ada baiknya menjadi ´si tipe produktif' disamping punya ide yang orisinil, juga mau berbagi kepada sesama anggota organisasi demi kemajuan organisasi itu sendiri.

Beberapa waktu lalu saya sempat mengikuti kegiatan BEM Universitas Gunadarma yaitu Hero of Education and Social sebagai volunteer. Pada persiapan acara yang bergerak di bidang kemanusiaan ini Misalnya mengenai cara penyediaan sembako, persiapan seminar, dll. Hal-hal tersebut meskipun sederhana juga memerlukan pengambilan keputusan yang tepat agar hambatan maupun masalah yang mungkin terjadi dapat diminimalisir maupun dihilangkan.




Referensi:
  • Hasan, I., 2002, Pokok-pokok Materi Teori Pengambilan Keputusan, Jakarta: Ghalia Indonesia.
  • Runtuwene, Lastiko,  Kepentingan dan Pengambilan Keputusan Partisipatif Dalam Organisasi Pendidikan Sekolah, http://sulut.kemenag.go.id/file/file/Katolik/xcjq1363633187.pdf. Diakses tanggal 14 Mei pukul 2:16pm.
  • Syamsi, Ibnu, 1995, Pengambilan Keputusan SIstem Informasi, Jakarta: Bumi Aksara.
  • Veithzal, R., 2004, Kepemimpinan dan Perilaku Organisasi, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. 

Wednesday, April 8, 2015

Kepemimpinan

  1. Pengertian Kepemimpinan

  2. Kepemimpinan muncul seiring dengan peradaban manusia, awalnya manusia berkumpul bersama kemudian bekerja bersama-sama untuk mempertahannya keberlangsungan hidupnya menentang kebuasan binatang dan alam disekitarnya. Pada masa itu seseorang yang ditunjuk sebagai pemimpin adalah orang-orang yang paling kuat, paling cerdas, dan paling berani. Tidak berbeda dengan zaman modern, pemimpin dan kepemimpinan di manapun juga dan kapanpun juga selalu diperlukan.

    Sebelum memahami apa yang dimaksud dengan kepemimpinan ada baiknya mengetahui terlebih dahulu arti pemimpin (leader). Kepemimpinan dilakukan oleh seorang pemimpin dan seorang pemimpin mengemban tugas dengan beraktivitas untuk melaksanakan kepemimpinan tersebut. Ada banyak sekali definisi dari kata ‘pemimpin’, misalnya:

    1. Henry Pratt Fairchild (dalam Kartono, 1998) menyatakan: 
      Pemimpin dalam pengertian luas ialah seorang yang memimpin, dengan jalan memprakarsai tingkah laku sosial dengan mengatur, mengarahkan, mengorganisir atau mengontrol usaha / upaya orang lain, melalui prestise, kekuasaan, atau posisi. Dalam pengertian yang terbatas pemimpin ialah seorang yang membimbing dengan bantuan kualitas-kualitas persuasifnya, dan akseptansi / penerimaan secara sukarela oleh para pengikutnya.

    2. John Gage Allee (dalam Kartono, 1998) menyatakan: “Leader.. a guide; a conductor; a commander;” (pemimpin itu ialah pemandu, penunjuk, penuntun; komandan).

    3. Menurut Kartono (1998: 33):
      Pemimpin adalah seorang pribadi yang memiliki kecakapan dan kelebihan khususnya di satu bidang, sehingga dia mampu mempengaruhi orang-orang lain untuk bersama-sama melakukan aktivitas-aktivitas tertentu, demi pencapaian satu atau beberapa tujuan.

    Dari beberapa definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa pemimpin ialah seseorang yang memiliki kelebihan di satu bidang, yang dapat memandu, mengorganisir, mengontrol upaya orang lain demi pencapaian suatu tujuan tertentu.

    Sedangkan ada beberapa definisi dari kepemimpinan, diantaranya:

    1. Menurut Richard L. Daf (2005: 5) yang mendefinisikan: Kepemimpinan (leadership) adalah suatu pengaruh yang berhubungan antara para pemimpin dan pengikut (followers).

    2. Kemudian Gibson menyatakan bahwa kepemimpinan adalah suatu upaya menggunakan pengaruh untuk memotivasi orang-orang guna pencapaian suatu tujuan.

    3. Yukl dalam bukunya mendefinisikan pemimpin sebagai proses untuk memengaruhi orang lain untuk memahami dan setuju dengan apa yang perlu dilakukan dan bagaimana tugas itu dilakukan secara efektif, serta proses untuk memfasilitasi upaya individu dan kolektif untuk mencapai tujuan bersama.

    Jika dipadukan, dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan merupakan hubungan antara seorang pemimpin dengan pengikutnya, dalam hal ini pemimpin mengupayakan agar pengikutnya paham dan setuju dengan tugas yang diberikan dan bagaimana tugas tersebut dilakukan secara efektif demi tercapainya suatu tujuan.

    Di dalam suatu organisasi beberapa fungsi kepemimpinan, antara lain:

    1. Memprakarsai struktur organisasi,
    2. Menjaga adanya kordinasi dan integritas organisasi,
    3. Merumuskan tujuan institusional atau organisasioinal, dan menentukan sarana serta cara-cara yang efisien untuk mencapai tujuan tersebut,
    4. Mempengaruhi pertentangan dan konflik-konflik yang muncul, dan mengadakan evaluasi serta evaluasi ulang,
    5. Mengadaka revisi, perubahan, inovasi pengembangan, dan penyempurnaan dalam organisasi.

    Terdapat beberapa metode kepemimpinan yang dilakukan seorang pemimpin dalam membimbing para pengikutnya untuk melakukan sesuatu, sehingga diharapkan dapat membantu keberhasilan pemimpin dalam melakukan tugas-tugasnya, sekaligus dapat memperbaiki prilaku dan kualitas kepemimpinannya. Beberapa diantarnya menurut Ordway Tead (dalam Kartono, 1998) sebagai berikut:

    1. Memberi Perintah,
    2. Memberi celaan dan pujian,
    3. Memupuk tingkah laku pribadi pemimpin yang benar
    4. Peka terhadap saran-saran
    5. Memperkuat rasa kesatuan kelompok
    6. Menciptakan disiplin diri dan disiplin kelompok
    7. Meredam kabar agin dan issue-issue yang tidak benar




  3. Tipologi Kepemimpinan

  4. Berikut beberapa pengelompokan tipe kepemimpinan menurut beberapa kelompok sarjana (dalam Kartono: 1998):
    1. Tipe Karismatis
    2. Tipe kepemimpinan ini mempunyai daya tarik dan wibawa yang luar biasa untuk mempengaruhi orang lain. Tokoh-tokohnya antara lain: Sukarno, Jengis Khan, Gandhi, dll 

    3. Tipe Paternalistis dan maternalistis
    4. Tipe ini merupakan tipe kepemimpinan yang kebapakan dan keibuan, menganggap pengikutnya sebagai anaknya sendiri yang belum dewasa dna perlu dikembangkan, cenderung melindungi, jarang memberi kesempatan untuk mengambil keputusan dan inisiatif terhadap bawahan, bersikap maha-tau dan maha-benar. 

    5. Tipe militeristis
    6. Bersifat kemiliteran, mirip dengan tipe otoriter, banyak menggunakan sistem komando / perintah, menghendaki kepatuhan mutlak dari bawahan, menyenangi formalitas, menuntut adanya disiplin keras, tidak menghendaki saran, usul, sugesti dan kritik dari pengikutnya, komunikasi hanya berlangsung searah. 

    7. Tipe Otokratis/Otoritatif
    8. Autos = sendiri, kratos = kekuasaan, otokrat berarti penguasa absolut. Cenderung mendasarkan diri pada kekuasaan dan paksaan mutlak yang harus dipatuhi. 

    9. Tipe Laisser Faire
    10. Tipe kepemimpinan ini pada hakikatnya bukan seorang pemimpin dalam arti sebenarnya. Kepemimpinan ini membiarkan pengikutnya berbuat semau sendiri, tanggung jawab harus dilakukan oleh bawahannya sendiri, tidak ada koordinasi kerja, dan tidak berdaya sama sekal dalam menciptakan situasi kerja yang kooperatif. Sehingga kelompok yang dipimpinnya tidak terkontrol, dan tanpa disiplin. 

    11. Tipe Populis
    12. Profesor Peter Worsley dalam bukunya The Third Wold mendefinisikan kepemimpinan ini sebagai kepemimpinan yang dapat membangun solidaritas rakyat, yang menekankan kesatuan nasional, nasionalisme, dan sikap yang berhati-hati terhadap kolonialisme dan penindasan serta penguasaan oleh kekuatan-kekuatan asing (luar negeri). 

    13. Tipe Administratif
    14. Merupakan tipe kepemimpinan yang mampu melaksanakan tugas-tugas administrasi secara efektif. Pada tipe kepemimpinan ini diharapkan adanya perkembangan teknis dan perkembangan sosial di tengah masyarakat. 

    15. Tipe Demokratis (Group developer)
    16. Kepemimpinan ini berorientasi kepada manusia dan memberikan bimbingan yang efisien pada pengikutnya. Kepemimpinan ini menghargai potensi setiap individu dan mau mendengarkan nasihat dan sugesti dari bawahan. Kekuatan kepemimpinan ini terletak pada partisipasi aktif dari setiap warga kelompok.



  5. Faktor-faktor yang mempengaruhi kepemimpinan


  6. Berikut adalah beberapa faktor yang mempengaruhi kepemimpinan:

    1. Pemimpin. Dalam kaitannya dengan Kepemimpinan, Pemimpin memang merupakan faktor penting dari Proses Kepemimpinan itu sendiri. Pemimpin harus mengerti apa yang harus dia tahu dan apa yang harus dia perbuat,

    2. Pengikut (Followers) Pengikut merupakan salah satu faktor kepemimpinan yang membuat Faktor pertama itu ada. Karena tanpa adanya Pengikut, otomatis Pemimpin pun tak ada. Oleh karena itu Faktor Kepemimpinan dalam Pengikut ini lebih cenderung pengertian akan apa saja yang Followers inginkan sehingga sebuah satuan fungsi manajemen bisa berjalan sesuai dengan apa yang kita inginkan. Serta ada pula yang mengatakan kalau berbeda Pemimpin maka berbeda pula gaya kepemimpinannya. Oleh karena itu Pengikut disini memang harus menyesuaikannya dengan cepat.

    3. Komunikasi Salah satu hal yang menjembatani antara Pemimpin dan Pengikut adalah proses Komunikasi itu sendiri. Dengan adanya komunikasi. Hubungan kerja antara dua belah pihak baik atasan maupun bawahan dapat sinergis dan berjalan sesuai dengan apa yang telah dirancangkan sebelumnya.

    4. Situasi Dalam sebuah situasi tertentu, terkadang kita diharusnkan untuk bertindak secara cepat dan refleks untuk menyelesaikannya. Oleh karena itu kondusifitas situasi antara Atasan dan Bawahan memang harus saling dikuatkan agara selalu terjadi kondisi situasi yang nyaman dan kondusif.




  7. Implikasi manajerial kepemimpinan terhadap organisasi

    Menurut Kartono (1998) Organisasi merupakan sistem kegiatan terkoordinasi dari kelompok yang bekerja sama mengarah pada tujun bersama, di bawah kewenangan dan kepemimpinan. Sementara kunci dari koordinasi dan kerja sama dalam kelompok tentunya dipengaruhi oleh kepemimpinan yang ada dalam organisasi tersebut. 

    Kepemimpinan dalam organisasi berfungsi sebagai penggerak, koordinator dari sumber daya manusia, sumber daya alam, semua dana, dan sarana dalam organisasi. 

  8. Tugas utama dari seorang pemimpin adalah mengambil keputusan, segala sesuatu yang terjadi dalam organisasi sebaiknya adalah karena diputuskan demikian, bukan karena secara kebetulan terjadi. Semakin tinggi kedudukan seseorang dalam organisasi maka semakin besar bobot dari keputusan yang diambilnya meskipun keputusan tersebut bersifat umum.

    Kepemimpinan yang efektif akan dapat mempengaruhi dan menggerakkan perilaku anggota organisasi untuk bekerja secara efektif dan efisien dalam rangka mencapai tujuan.

Referensi:
  • Gary Yukl, Kepemimpinan Dalam Organisasi, Edisi kelima, Jakarta: PT Indeks kelompok GRAMEDIA, 2005.

Saturday, March 14, 2015

Peran Komunikasi Dalam Organisasi


PERAN KOMUNIKASI DALAM ORGANISASI

Oleh:
Ardian Pramana (11113244/ 2KA01)
Fakultas Ilmu Komputer dan Teknologi Informasi Universitas Gunadarma



Tidak sedikit orang yang menganggap komunikasi sebagai suatu hal yang mudah, mungkin semudah berkedip. Namun ketika seseorang mengalami kesulitan dalam komunikasi dalam kehidupan sehari-hari, misalnya ketika bertelepon, bisa saja lawan bicara kurang bahkan sulit memahami maksud kita, sehingga komunikasi yang kita lakukan menjadi tidak efektif. Kejadian semacam ini mungkin tidak terlalu menggambarkan pentingnya berkomunikasi yang baik. Namun jika kejadian yang sama terjadi dalam lingkup organisasi, tentu dapat mengganggu proses pencapaian tujuan dalam organisasi tersebut.

Berkaca dari contoh kejadian tersebut, maka mempelajari bagaimana berkomunikasi yang baik merupakan suatu kebutuhan. Oleh karena itu, dalam artikel ini penulis akan mencoba membahas mengenai komunikasi dan arti pentingnya, jenis dan prosesnya, bagaimana komunikasi yang efektif, dan Implikasi manajerial.



1. Komunikasi

Ada beberapa definisi dari komunikasi menurut para ahli. Menurut Effendy (2003:13) “Komunikasi adalah proses penyampaian pikiran atau perasaan oleh seseorang kepada orang lain dengan menggunakan lambang-lambang yang bermakna bagi kedua pihak, dalam situasi yang tertentu komunikasi menggunakan media tertentu untuk merubah sikap atau tingkah laku seorang atau sejumlah orang sehingga ada efek tertentu yang diharapkan.”. Menurut Handoko (2002:30) ”Komunikasi adalah proses pemindahan pengertian dalam bentuk gagasan, informasi dari seseorang ke orang lain.”. Maka, secara umum penulis menyimpulkan bahwa komunikasi dapat dikatakan sebagai cara kita menyampaikan gagasan / pemikiran kepada orang lain melalui lisan maupun non lisan.

Sedangkan arti penting komunikasi sendiri menurut penulis dapat dikaitkan langsung dengan fungsi-fungsi komunikasi tersebut. Berikut fungsi komunikasi menurut Effendy:
  1. Menginformasikan (to inform): Adalah memberikan informasi kepada masyarakat, memberitahukan kepada masyarakat mengenai peristiwa yang terjadi, ide atau pikiran dan tingkah laku orang lain, serta segala sesuatu yang disampaikan orang lain.
  2. Mendidik (to educated): Adalah komunikasi merupakan sarana pendidikan. Dengan komunikasi, manusia dapat menyampaikan ide dan pikiranya kepada orang lain, sehingga orang lain mendapatkan informasi dan ilmu pengetahuan.
  3. Menghibur (to entertain): Adalah komunikasi selain berguna untuk menyampaikan komunikasi, pendidikan dan mempengaruhi juga berfungsi untuk menyampaikan hiburan atau menghibur orang lain.
  4. Mempengaruhi (to influence): Adalah fungsi mempengaruhi setiap individu yang berkomunikasi, tentunya berusaha saling mempengaruhi jalan pikiran komunikan dan lebih jauh lagi berusaha merubah sikap dan tingkah laku komunikan sesuai dengan yang di harapkan.
Berdasar pada beberapa fungsi komunikasi diatas, arti penting komunikasi dapat disimpulkan untuk men-transfer gagasan pada seorang individu kepada individu lainnya.

Sebagai tambahan arti penting komunikasi dalam suatu organisasi menurut Yuliana (2012) “.. Komunikasi mempunyai andil membangun iklim organisasi, yang berdampak kepada membangun iklim organisasi, yaitu berdampak kepada membangun budaya organisasi yaitu nilai dan kepercayaan yang manjadi titik pusat organisasi. Budaya organisasi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari lingkungan internal organisasi karena keragaman budaya yang ada dalam suatu organisasi sama banyaknya dengan jumlah individu yang ada dalam organisasi Tujuan komunikasi adalah sebagai bentuk saling pengertian antar anggota organisasi.”



2. Jenis dan Proses Komunikasi
  1. Jenis Komunikasi
  2. Menurut cara penyampaiannya, jenis komunikasi dibagi menjadi:
    1. Komunikasi lisan
    2. Merupakan komunikasi yang terjadi secara langsung dan tidak dibatasi oleh jarak, kedua belah pihak bertatap muka. Misal: dialog, wawancara, rapat, dsb.

      Yang terjadi secara tidak langsung karena dibatasi jarak, misal: komunikasi lewat telepon, video confrence dsb.

    3. Komunikasi tertulis
    4. Yang dilaksanakan dalam bentuk surat dan dipergunakan untuk menyampaikan berita yang sifatnya singkat, jelas tetapi dipandang perlu untuk ditulis dengan maksud-maksud tertentu.


  3. Proses Komunikasi
  4. Menurut Effendy (2003:11) proses komunikasi dibagi menjadi dua tahap, yaitu dalam perspektif psikologi dan mekanistik.

  1. A.1 Proses komunikasi dalam perspektif psikologi

  2. Merupakan proses komunikasi prespektif yang terjadi didalam diri komunikator dan komunikan. Proses membungkus pikiran dengan bahasa yang dilakukan komunikator, yang dinamakan dengan encoding , akan ia transmisikan kepada komunikan.

    Selanjutnya terjadi proses komunikasi interpersonal dalam diri komunikan,yang disebut decoding, untuk memaknai pesan yang disampaikan ke padanya.


  3. A.2 Proses komunikasi dalam prespektif mekanistik.

  4. Untuk jelasnya proses komunikasi dalam perspektif mekanistis dapat diklasfikasikan lagi menjadi beberapa, yaitu:

    1. Proses komunikasi secara primer
    2. Merupakan proses penyampaian pikiran atau perasaan seseorang kepada orang lain dengan menggunaakan lambang (simbol) sebagai media. Lambang sebagai media primer dalam proses komunikasi verbal (bahasa), dan pesan nonverbal (gesture, isyarat, gambar, warna, dll. yang secara langsung dapat menerjemahkan pikiran atau perasaan komunikator kepada komunikan.
    3. Proses komunikasi secara sekunder
    4. Merupakan proses penyampaian pesan oleh komunikator kepada komunikan dengan menggunakan alat atau sarana sebgai media kedua setelah lambing sebagai media pertama. Media kedua tersebut dapat berupa: surat, telepon, radio, televisi, dll.
    5. Proses komunikasi secara linier
    6. Merupakan proses penyampaian pesan oleh komunikatior kepada komunikan sebagai titik terminal. Komunikasi linier ini berlangsung baik dalam situasi komunikasi tatap muka (face to face communication) secara pribadi (interpersonal communication) dan kelompok (group communication), maupun dalam situasi bermedia (mediated communication).
    7. Proses komunikasi secara sirkular
    8. Merupakan lawan dari proses komunikasi secara linier. Dalam konteks komunikasi yang dimaksudkan proses komunikasi secara linier. Dalam konteks komunikasi yang dimaksudkan proses secara sirkuler adalah terjadinya feedback atau umpan balik, yaitu terjadinya arus respons atau tanggapan dari pihak komunikan terdapat pesan yang diberikan oleh komunikator.


3. Komunikasi Efektif

Menurut Nurrohim (2009), kemampuan komunikasi merupakan faktor penentu kesuksesan setiap individu maupun organisasi untuk bertahan dalam persaingan bisnis yang sangat kompetitif saat ini. Kemampuan komunikasi seseorang dalam organisasi diperlukan dalam setiap kondisi misalnya pada saat mempersiapkan sebuah presentasi bisnis, menyampaikan ide-ide atau gagasan dalam suatu rapat, negosiasi bisnis, melatih tim, membangun sebuah tim kerja, dan dalam setiap aktivitas organisasi. Melihat pentingnya komunikasi dalam organisasi, efektivitas komunikasi akan sangat menentukan kesuksesan organisasi baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

Adapun dalam membangun komunikasi yang efektif menurut Covey (dalam Nurrohim, 2009) diperlukan lima dasar penting yaitu usaha untuk benar-benar mengerti orang lain, kemampuan untuk memenuhi komitmen, kemampuan untuk menjelaskan harapan, kemauan untuk meminta maaf secara tulus jika melakukan kesaahan, dan kemampuan memperlihatkan integritas.


4. Implikasi Manajerial

Menurut kamus besar Bahasa Indonesia, kata implikasi berarti akibat. Kata implikasi sendiri dapat merujuk ke beberapa aspek yaitu salah satunya adalah manajerial atau manajemen.

Dalam manajemen sendiri terdapat 2 implikasi yaitu:
  1. Implikasi prosedural meliputi tata cara analisis, pilihan representasi, perencanaan kerja dan formulasi kebijakan.
  2. Implikasi kebijakan meliputi sifat substantif, perkiraan ke depan dan perumusan tindakan.

Penulis berpendapat bahwa implikasi manajerial merupakan respons, dalam hal ini tindakan pengambilan keputusan manajerial berdasar atas suatu kondisi pada organisasi. Anggapan penulis berdasar pada beberapa jurnal yang seakan mencantumkan respons/ reaksi untuk melakukan tindakan koreksi terhadap suatu kondisi melalui tindakan manajerial (Christina, 2012).



5. Penutup

Demikian bahasan mengenai peran komunikasi dalam organisasi. Beberapa keterkaitan antara komunikasi dan organisasi yang dapat penulis cerna antara lain:

  • Organisasi tentu akan terus berjalan dengan baik jika komunikasi antar anggotanya juga baik.

  • Dalam organisasi perusahaan, seorang Manajer maupun pegawai yang mampu berkomunikasi secara efektif tentu sangat berguna dalam pencapaian tujuan organisasi. Manajer dapat menjalankan kepemimpinan dengan terampil, dapat memahami dan memotivasi bawahannya, dapat menerima feedback yang membangun dari bawahannya, dsb.

    Sedangkan bagi pegawai keuntungannya dapat dengan mudah memahami limpahan wewenang dari atasannya, peningkatan team work antar pegawai, dsb.

Demikian yang dapat penulis uraikan, penulis tidak menutup diri dari kritik dan saran yang membangun. Terimakasih.





Daftar Pustaka

  • Effendy, Onong Uchjana. 2003. Ilmu,Teori, dan Filsafat Komunikasi. Bandung: PT. Citra Aditya Bakti.
  • ______, ____________. 2007. Ilmu Komunikasi (Teori dan Praktek). Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
  • Handoko, T. Hani. 2002. Manajemen Sumber Daya Manusia. Yogyakarta : BPFE.
  • Nawangsari, Sri. Komunikasi Bisnis. Universitas Gundarma. http://elearning.gunadarma.ac.id/docmodul/komunikasi_bisnis/ Diakses 17 Maret 2015. Pukul 19.25.
  • Nurrohim, Hassan, Lina, Anatan. 2009. Efektivitas Komunikasi Dalam Organisasi. Jurnal Manajemen, Vol.7, No.4, Mei 2009.
  • Yuliana, Rahmi. 2012. Peran Komunikasi Dalam Organisasi. Jurnal STIE Semarang, Vol4, No 3, Edisi Oktober 2012 (ISSN : 2252-7826).
  •  
Anda dapat mengundu artikel ini dalam format: .docx | .doc | .pdf 

    Monday, October 27, 2014

    Teori Organisasi Umum 1 - Tugas 3

    A. Pengertian Komunikasi

    Komunikasi adalah suatu proses penyampaian informasi (pesan, ide, gagasan) dari satu pihak kepada pihak lain. Pada umumnya, komunikasi dilakukan secara lisan atau verbal yang dapat dimengerti oleh kedua belah pihak. apabila tidak ada bahasa verbal yang dapat dimengerti oleh keduanya, komunikasi masih dapat dilakukan dengan menggunakan gerak-gerik badan, menunjukkan sikap tertentu, misalnya tersenyum, menggelengkan kepala, mengangkat bahu. Cara seperti ini disebut komunikasi nonverbal.




    B. Unsur-unsur Komunikasi

    Unsur-unsur atau Komponen komunikasi adalah hal-hal yang harus ada agar komunikasi bisa berlangsung dengan baik. Menurut Laswell komponen-komponen komunikasi adalah:

    a. Pengirim atau komunikator (sender) adalah pihak yang mengirimkan pesan kepada pihak lain.
    b. Pesan (message) adalah isi atau maksud yang akan disampaikan oleh satu pihak kepada pihak lain.
    c. Saluran (channel) adalah media dimana pesan disampaikan kepada komunikan. dalam komunikasi antar-pribadi (tatap muka) saluran dapat berupa udara yang mengalirkan getaran nada/suara.
    d. Penerima atau komunikate (receiver) adalah pihak yang menerima pesan dari pihak lain
    e. Umpan balik (feedback) adalah tanggapan dari penerimaan pesan atas isi pesan yang disampaikannya.
    f. Aturan yang disepakati para pelaku komunikasi tentang bagaimana komunikasi itu akan dijalankan ("Protokol")Bagaimana menyalurkan ide melalui konunikasi



    C. Hambatan-hambatan komunikasi


    a. Hambatan Fisik Dalam Proses Komunikasi

    Merupakan jenis hambatan berupa fisik, misalnya cacat pendengaran (tuna rungu), tuna netra, tuna wicara. Maka dalam hal ini baik komunikator maupun komunikan harus saling berkomunikasi secara maksimal. Bantuan panca indera juga berperan penting dalam komunikasi ini.

    Contoh: Apabila terdapat seorang perawat dengan pasien berusia lanjut. Dalam hal ini maka perawat harus bersikap lembut dan sopan tapi bukan berarti tidak pada pasien lain. Perawat harus lebih memaksimalkan volume suaranya apabila ia berbicara pada pasien tuna rungu. Begitu pula halnya dengan si pasien. Apabila si pasien menderita tuna wicara maka sebaiknya ia mengoptimalkan panca inderanya (misal: gerakan tangan, gerakan mulut) agar si komunikan bisa menangkap apa yang ia ucapkan. Atau si pasien tuna wicara isa membawa rekan untuk menerjemahkan pada si komunikan apa yang sebetulnya ia ucapkan.

    b. Hambatan Semantik Dalam Proses Komunikasi

    Semantik adalah pengetahuan tentang pengertian atau makna kata (denotatif). Jadi hambatan semantik adalah hambatan mengenai bahasa, baik bahasa yang digunakan oleh komunikator, maupun komunikan.

    Hambatan semantik dibagi menjadi 3, diantaranya:

    a.) Salah pengucapan kata atau istilah karena terlalu cepat berbicara.
    contoh: partisipasi menjadi partisisapi

    b.) Adanya perbedaan makna dan pengertian pada kata-kata yang pengucapannya sama
    Contoh: bujang (Sunda: sudah; Sumatera: anak laki-laki)

    c.) Adanya pengertian konotatif
    Contoh: secara denotative, semua setuju bahwa anjing adalah binatang berbulu, berkaki empat. Sedangkan secara konotatif, banyak orang menganggap anjing sebagai binatang piaraan yang setia, bersahabat dan panjang ingatan.

    Jadi apabila ini disampaikan secara denotatif sedangkan komunikan menangkap secara konotatif maka komunikasi kita gagal.

    c. Hambatan Psikologis Dalam Proses Komunikasi

    Disebut sebagai hambatan psikologis karena hambatan-hambatan tersebut merupakan unsur-unsur dari kegiatan psikis manusia.

    Hambatan psikologi dibagi menjadi 4 :

    a.) Perbedaan kepentingan atau interest

    Kepentingan atau interst akan membuat seseorang selektif dalam menganggapi atau menghayati pesan. Orang hanya akan memperhatikan perangsang (stimulus) yang ada hubungannya dengan kepentingannya. Effendi (1981: 43) mengemukakan secara gamblang bahwa apabila kita tersesat dalam hutan dan beberapa hari tak menemui makanan sedikitpun, maka kita akan lebih memperhatikan perangsang-perangsang yang mungkin dapat dimakan daripada yang lain. Andaikata dalam situasi demikian kita dihadapkan pada pilihan antara makanan dan sekantong berlian, maka pastilah kita akan meilih makanan. Berlian baru akan diperhatikan kemudian. Lebih jauh Effendi mengemukakan, kepentingan bukan hanya mempengaruhi kita saja tetapi juga menentukan daya tanggap, perasaan, pikiran dan tingkah laku kita.

    Sebagaimana telah dibahas sebelumnya, komunikan pada komunikasi massa bersifat heterogen. Heterogenitas itu meliputi perbedaan usia, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan yang keseluruhannya akan menimbulkan adanya perbedaan kepentingan. Kepentingan atau interest komunikan dalam suatu kegiatan komunikasi sangat ditentukan oleh manfaat atau kegunaan pesan komunikasi itu bagi dirinya. Dengan demikian, komunikan melakukan seleksi terhadap pesan yang diterimanya.

    Kondisi komunikan seperti ini perlu dipahami oleh seorang komunikator. Masalahnya, apabila komunikator ingin agar pesannya dapat diterima dan dianggap penting oleh komunikan, maka komunikator harus berusaha menyusun pesannya sedemikian rupa agar menimbulkan ketertarikan dari komunikan.

    b.) Prasangka

    Menurut Sears, prasangka berkaitan dengan persepsi orang tentang seseorang atau kelompok lain, dan sikap serta perilakunya terhadap mereka. Untuk memperoleh gambaran yang jelas mengenai prasangka, maka sebaiknya kita bahas terlebih dahulu pengertian persepsi.

    Persepsi adalah pengalaman objek pribadi, peristiwa faktor dari hambatan : personal dan situasional.

    Untuk mengatasi hambatan komunikasi yang berupa prasangka pada komunikan, maka komunikator yang akan menyampaikan pesan melalui media massa sebaiknya komunikator yang netral, dalam arti ia bukan orang controversial, reputasinya baik artinya ia tidak pernah terlibat dalam suatu peristiwa yang telah membuat luka hati komunikan. Dengan kata lain komunikator itu harus acceptable. Disamping itu memiliki kredibilitas yang tinggi karena kemampuan dan keahliannya.

    c.) Stereotip
    Adalah gambaran atau tanggapan mengenai sifat atau watak bersifat negative (Gerungan,1983:169). Jadi stereotip itu terbentuk pada dirinya berdasarkan keterangan-keterangan yang kurang lengkap dan subjektif.

    Contoh: Orang Batak itu berwatak keras sedangkan orang Jawa itu berwatak lembut.

    Seandainya dalam proses komunikasi massa ada komunikan yang memiliki stereotip tertentu pada komunikatornya, maka dapat dipastikan pesan apapun tidak dapat diterima oleh komunikan.

    d.) Motivasi
    Merupakan suatu pengertian yang melingkupi semua penggerak, alasan-alasan atau dorongan-dorongan dalam diri manusia yang menyebabkan manusia berbuat sesuatu (Gerungan 1983:142).

    Motif adalah sesuatu yang mendasari motivasi karena motif memberi tujuan dan arah pada tingkah laku manusia. Tanggapan seseorang terhadap pesan komunikasi pun berbeda sesuai dengan jenis motifnya.

    Motif dibagi menjadi 2 macam, yaitu:

    a.) Motif Tunggal
    Contoh: Motif seseorang menonton acara “Seputar Indonesia” yang disiarkan RCTI adalah untuk memperoleh informasi.

    b.) Motif Bergabung
    Contoh: (kasus yang sama dengan motif tunggal) tetapi bagi orang lain motif menonton televisi adalah untuk memperolh informasi sekaligus mengisi waktu luang.



    D. Klasifikasi Komunikasi Dalam Organisasi

    1. Dari segi sifatnya :

    a. Komunikasi Lisan
    Komunikasi lisan secara langsung adalah komunikasi yang dilakukan oleh dua orang atau lebih yang saling bertatap muka secara langsung dan tidak ada jarak atau peralatan yang membatasi mereka. Lisan ini terjadi pada saat dua orang atau lebih saling berbicara/ berdialog, pada saat wawancara, rapat, berpidato.

    Komunikasi lisan yang tidak langsung adalah komunikasi yang dilakukan dengan perantara alat seperti telepon, handphone, VoIP, dan lain sebagainya karena adanya jarak dengan si pembicara dengan lawan bicara.

    b. Komunukasi Tertulis

    Komunikasi tertulis adalah komunikasi yang di lakukan dengan perantaraan tulisan tanpa adanya pembicaraan secara langsung dengan menggunakan bahasa yang singkat, jelas, dan dapat dimengerti oleh penerima. Komunikasi tulisan dapat berupa surat-menyurat, sms, surat elektronik, dan lain sebagainya.

    Komunikasi tertulis juga dapat melalui naskah-naskah yang menyampaikan informasi untuk masyarakat umum dengan isi naskah yang kompleks dan lengkap seperti surat kabar, majalah, buku-buku dan foto pun dapat menyampaikan suatu komunikasi secara lisan namun tanpa kata-kata. Begitu pula dengan spanduk, iklan, dan lain sebagainya.


    c. Komunikasi Verbal

    Komunikasi verbal adalah komunikasi dengan menggunakan simbol-simbol verbal. Simbol verbal bahasa
    merupakan pencapaian manusia yang paling impresif. Ada aturan-aturan yang ada untuk setiap bahasa yaitu fonologi, sintaksis, semantik dan pragmatis.


    d. Komunikasi Non Verbal
    Komunikasi non verbal adalah proses komunikasi dimana pesan disampaikan tidak menggunakan kata-kata.


    2. Dari segi arahnya :

    a. Komunikasi keatas

    Porsi ini sebenarnya dituntut untuk seimbang dengan komunikasike baawah. Berbeda dengan komunikasi ke bawah, komunikasike atas mengalir dari orang pada hierarki yan lebih rendah kejenjang yang lebih tinggi. Misalnya, dalam bentuk kotak sara,pertemuan kelompok, pengaduan, dan sebagainya.

    b. Komunikasi kebawah

    Mengalir dari orang pada hierarki yang lebih tinggi ke jenjangyang lebih rendah. Misalnya dalam bentuk instruksi, memoresmi, prosedur, pedoman kerja, pengumuman, dan sebagainya.

    c. Komunikasi diagonal
    Merupakan jalur komunikasi yang paling jarang digunakan,komunikasi diagonal penting dalam situasi ketika para anggiotatidak dapat berkomunikasi secara efektif melalui jalur ini.

    d. Komunikasi horizontal
    Merupakan pertimbangan utama dalam desain organisasi,namun organisasi yang efektif memerlukan juga komunikasihorizontal yang sangat perlu bagi koordinasi dan integrasi dariberaneka ragam fungsi keorganisasian. Misalnya, komunikasiantar produksi dan pemsaran dalam organisasi bisnis, dsb.

    e. Komunikasi satu arah
    Pemberitahuan gempa melalui BMKG(tanpa ada timbal balik).

    f. Komunikasi Dua Arah
    Berbicara dengan adanya timbal balik/ saling berkomunikasi.


    3. Dari segi lawannya :

    a. Komunikasi Satu Lawan Satu

    Berbicara dengan lawan bicara yang sama banyaknya
    Cth:berbicara melalui telepon

    b. Komunikasi Satu Lawan Banyak (kelompok)
    Berbicara antara satu orang dengan suatu kelompok.
    Contoh: kelompok warga menginterogasi maling.

    c. Kelompok Lawan Kelompok
    Berbicara antara suatu kelompok dengan kelompok lain.
    Contoh: debat partai politik.


    4. Dari segi keresmian :

    a. Komunikasi formal

    Komunikasi yang memperhitungkan tingkat ketepatan, keringkasan, dan kecepatan komunikasi.

    b. Komunikasi informal

    Komunikasi informal adalah komunikasi antara orang yang ada dalam suatu organisasi , akan tetapi tidak direncanakan atau tidak ditentukan dalam struktur organisasi . Fungsi komunikasi informal adalah untuk memelihara hubungan sosial persahabatan kelompok informal , penyebaran informasi yang bersifat pribadi dan privat seperti isu , gosip , atau rumor.



    E. Faktor – faktor perubahan Organisasi


    Sebuah perubahan dan pengembangan dapatlah terjadi pada apapun dan siapapun tidak terkecuali dengan organisasi. Tidak banyak individu atau organisasi menyukai adanya perubahan, namun perubahan tidak dapat dihindari namun harus di hadapi.
    Faktor perubahan dapat terjadi karena 2 faktor, yaitu faktor internal dan faktor eksternal.

    A. Faktor Internal

    Adalah segala keseluruhan faktor yang ada di dalam organisasi dimana factor tersebut dapat mempengaruhi organisasi dan kegiatan organisasi. Adalah penyebab perubahan yang berasal dari dalam organisasi yang bersangkutan, yang dapat berasal dari berbagai sumber. Problem yang sering timbul berkaitan dengan hubungan sesame anggota organisasi pada umumnya menyangkut masalah komunikasi dan kepentingan masing-masing anggota. Proses kerja sama yang berlangsung dalam organisasi juga kadang-kadang merupakan penyebab dilakukannya perubahan.
    Problem yang timbul dapat menyangkut masalah system kerjasamanya dan dapat pula menyangkut perlengkapan atau peralatan yang digunakan. Sistem kerja sama yang terlalu birokratis atau sebaliknya dapat menyebabkan suatu organisasi menjadi tidak efisien. System birokrasi (kaku) menyebabkan hubungan antar anggota menjadi impersonal yang mengakibatkan rendahnya semangat kerja dan pada gilirannya produktivitas menurun, demikian sebaliknya. Perubahan yang harus dilakukan akan menyangkut struktur organisasi yang digunakan.

    Hubungan antar anggota yang kurang harmonis juga merupakan salah satu problem yang lazim terjadi. Dibedakan menjadi dua, yaitu: problem yang menyangkut hubungan atasan bawahan (hubungan yang bersifat vertikal), dan problem yang menyangkut hubungan sesama anggota yang kedudukannya setingkat (hubungan yang bersifat horizontal). Problem atasan bawahan yang sering timbul adalah problem yang menyangkut pengambilan keputusan dan komunikasi. Keputusan pimpinan yang berkenaan dengan system pengupahan, misalnya dianggap tidak adil atau tidak wajar oleh bawahan, atau putusan tentang pemberlakuan jam kerja yang dianggap terlalu lama, dsb.

    Contoh Faktor Internal :
    a. Problem hubungan antar anggota,
    b. Problem dalam proses kerja sama,
    c. Problem keuangan.
    d. Perubahan kebijakan lingkungan.
    e. Perubahan tujuan organisasi.
    f. Perluasan wilayah operasi tujuan organisasi.
    g. Volume kegiatan yang semakin bertambah banyak.
    h. Sikap dan perilaku dari anggota organisasi.

    B. Faktor Eksternal

    Adalah segala keseluruhan faktor yang ada di luar organisasi yang dapat mempengaruhi organisasi dan kegiatan organisasi. Beberapa factor tersebut antara lain : Politik, Hukum , Kebudayaan, Teknologi, Sumber alam, Demografi dan sebagainya.

    Adalah penyebab perubahan yang berasal dari luar, atau sering disebut lingkungan. Organisasi bersifat responsive terhadap perubahan yang terjadi di lingkungannya. Oleh karena itu, jarang sekali suatu organisasi melakukan perubahan besar tanpa adanya dorongan yang kuat dari lingkungannya. Artinya, perubahan yang besar itu terjadi karena lingkungan menuntut seperti itu. Beberapa penyebab perubahan organisasi yang termasuk faktor ekstern adalah perkembangan teknologi, faktor ekonomi dan peraturan pemerintah.

    Perkembangan dan kemajuan teknologi juga merupakan penyebab penting dilakukannya perubahan. Penggantian perlengkapan lama dengan perlengkapan baru yang lebih modern menyebabkan perubahan dalam berbagai hal, misalnya: prosedur kerja, kualitas dan kuantitas tenaga kerja, jenis bahan baku, jenis output yang dihasilkan, system penggajian yang diberlakukan yang memungkinkan jumlah bagian-bagian yang ada dikurangi atau hubungan pola kerja diubah karena adanya perlengkapan baru.

    Contoh faktor eksternal:
    a. Politik.
    b. Hukum.
    c. Kebudayaan.
    d. Teknologi.
    e. SDA.
    f. Demografi.
    g. Sosiologi.



    F. Proses perubahan

    Dalam suatu proses itu ada beberapa langkah untuk memenuhi tujuan organisasi tersebut yaitu :

    a. Mengadakan Pengkajian

    Maksudnya adalah dalam organisasi tersebut diadakan suatu pengkajian atau proses penindak lanjutan kegiatan – kegiatan atau cara – cara apa saja dalam organisasi tersebut,misalnya diadakan pengkajian setiap sebulan sekali dalam organisasi tersebut agar organisasi tersebut itu update dengan info- info yang dapat menunjang kemajuan dan tujuan dari organisasi tersebut.

    b. Mengadakan Identifikasi

    Maksudnya adalah melakukan penyelidikan atau pemeriksaan secara detail tentang permasalahan – permasalahan apa saja yang terjadi dalam organisasi tersebut,misalnya mengadakan identifikasi masalah kasus yang sedang terjadi dalam organisasi tersebut setiap seminggu sekali,langkah tersebut bertujuan agar dalam organisasi tersebut tahu bagaimana menyelesaikan masalah apa saja yang terjadi dalam organisasi tersebut.

    c. Menetapkan Perubahan

    Maksudnya adalah menetapkan suatu perubahan yang baru atau bisa dikatakan sebuah sistem baru dalam organisasi tersebut,misalkan terjadi suatu perubahan sistem dalam organisasi tersebut dari sistem yang lama dengan sistem yang baru dan apabila dilihat dari kinerjanya sistem baru tersebut memang bagus dan berkembang dari sistem yang lama,maka perubahan sistem tersebut harus ditetapkan dan meninggalkan sistem yang lama.

    d. Menentukan Strategi

    Maksudnya adalah sebelum melangkah dan memutuskan pilihan dalam suatu organisasi tersebut, harus ditentukan dulu matang – matang atau difikirkan terlebih dahulu kira – kira strategi apa yang dapat memajukan sebuah organisasi tersebut.

    e. Melakukan Evaluasi

    Maksudnya adalah melakukan suatu perubahan – perubahan sikap dalam organisasi tersebut,misalnya kita cari dulu apa yang salah dalam organisasi tersebut dan solusi apa yang dapat menyelesaikan masalah tersebut lalu kita benarkan kesalahan – kesalahan tersebut dan tidak akan mengulanginya lagi,itulah yang disebut mengevaluasi atau bisa dikatakan melakukan sebuah perubahan atau perbaikan dalam organisasi tersebut,dengan sering kita mengevaluasi dalam organisasi tersebut, maka organisasi tersebut menjadi bersikap hati – hati dan teliti dalam setiap bertindak melakukan sesuatu yang berdampak langsung dalam organisasi tersebut.



    G. Ciri-ciri pengembangan Organisasi


    Berikut adalah ciri-ciri pengembangan organisasi yang efektif:

    1. Merupakan strategi terencana dalam mewujudkan perubahan organisasional, yang memiliki sasaran jelas berdasarkan diagnosa yang tepat dan akurat tentang permasalahan yang dihadapi oleh suatu organisasi.

    2. Merupakan kolaborasi antara berbagai pihak yang akan terkena dampak perubahan yang akan terjadi terhadap suatu organisasi.

    3. Menekankan cara-cara baru yang diperlukan untuk meningkatkan kinerja seluruh organisasi dan semua satuan kerja dalam organisasi.

    4. Mengandung nilai humanistik dimana pengembangan potensi manusia menjadi bagian terpenting.

    5. Menggunakan pendekatan komitmen sehingga selalu memperhitungkan pentingnya interaksi, interaksi dan interdependensi antara organisasi sau dengan organisasi yang lainnya.

    6. berbagai satuan kerja sebagai bagian integral di suasana yang utuh.

    7. Menggunakan pendekatan ilmiah dalam upaya meningkatkan efektivitas organisasi.

    Apabila selama ini kita hanya mengenal pembelajaran pada tingkat individu dan kelompok, maka perkembangan manajemen telah mengenal pembelajaran organisasi (learning organization), yang secara sederhana dapat diartikan sebagai :

    Organisasi yang secara terus menerus melakukan perubahan diri agar dapat mengelola pengetahuan lebih baik lagi, memanfaatkan tekhnologi, memberdayakan sumber daya, dan memperluas area belajarnya agar mampu bertahan di lingkungan yang selalu berubah.



    H. Metode pengembangan organisasi

    Dalam kegiatan pengembangan organisasi terdapat berbagai macam metode yang pada dasarnya dikelompokan dalam 2 macam, yaitu metode pengembangan perilaku, dan metode pengembangan keterampilan dan sikap.

    1. Metode Pengembangan Perilaku

    Metode pengembangan perilaku atau Behavioral Development Methode merupakan metode yang berusaha menyelidiki secara mendalam tentang proses perilaku kelompok dan individu. Hal itu dapat dilakukan dengan mempergunakan berbagai cara. Dengan kata lain, metode pengembangan perilaku dapat dibedakan menjadi berberapa macam. Dalam buku ini hanya disebutkan 4 macam yaitu, jaringan manajerial, latihan kepekaan, pembentukan tim, dan umpan balik survai.

    a. Jaringan manajerial : Jaringan manajerial atau kisi manajerial disebut juga latihan jaringan adalah suatu metode pengembangan organisasi yang didasarkan jaringan material. Teori ini dipelopori oleh Robert Blake dan Jane Mouton. Menurut mereka, gaya kepemimpinan akan menjadi sangat efektif apabila perhatian pimpinan terhadap produksi dan orang dalam keadaan seimbang. Dalam hal demikian pimpinan menunjukkan perhatian tinggi baik terhadap produksi maupun terhadap orang.

    b. Latihan Kepekaan : merupakan latihan dalam kelompok. Oleh karena itu metode ini dinamakan pula metode T-group. dalam metode ini yang dimaksud dengan kepekaan adalah kepekaan terhadap diri sendiri dan terhadap hubungan diri sendiri dengan orang lain. Metode ini berlandaskan pada anggapan bahwa kesulitan untuk berprestasi disebabkan oleh adanya persoalan emosional dari kelompok orang-orang yang harus mencapi tujuan.

    c. Pembentukan Tim : Merupakan salah satu metode pengembangan organisasi dengan mengembangkan perilaku kelompok melalui suatu teknik intervensi yang disebut pembentukan tim. Tujuan dari pada pengembangan perilaku kelompok ialah untuk melakukan pekerjaan secara efektif dengan membentuk tim.

    d. Umpan Balik Survai : adalah suatu metode yang berusaha mengumpulkan data-data dari para anggota organisasi. Data itu meliputi data-data yang berhubungan dengan tingkah laku, sikap, seta berbagai perasaan lain yang ada pada diri setiap anggota organisasi.


    2. Metode Pengembangan Keterampilan dan Sikap

    Metode ini merupakan suatu program latihan yang dilaksanakan secara terus-menerus dengan tujuan untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan sikap para anggota organisasi. Oleh karena itu yang dimaksud dengan latihan atau training adalah suatu proses pengembangan kecakapan, pengetahuan, keterampilan, keahlian, dan sikap tingkah laku dari para anggota organisasi. Program latihan dapat dilakukan dengan berbagai cara, diantaranya ialah latihan di tempat kerja, latihan instruksi kerja, latihan di luar tempat pekerjaan, dan latihan di tempat kerja tiruan.

    a. Latihan di tempat kerja : Latihan kerja di tempat kerja yang sebenarnya. Latihan ini melatih anggota organisasi untuk menjalankan pekerjaan-pekerjaan dengan lebih efisien. Keuntungan yang diperoleh dalam latihan di tempat kerja ini antara lain, sangat ekonomis karena para peserta tetap produktif selama mereka mengikuti dan menjalankan latihan, selain itu prestasi anggota organisasi tidak akan berkurang atau hilang, hal ini sangat berbeda apabila dibanding dengan latihan yang diadakan diluar tempat kerja. Latihan yang di luar tempat kerja akan mengakibatkan sebagian prestasi hilang apabila peserta latihan kembali ke tempat kerjanya masing-masing.

    b. Latihan instruksi kerja : Terdiri dari 3 macam yaitu Job Instruction Training (latihan mengenai proses pemberian instruksi-instruksi kerja. Para peserta latihan mula-mula diperkenalkan dengan pekerjaan, dan kepada mereka diberikan berbagai instruksi dan demonstrasi secara bertahap mengenai fungsi pekerjaan.) Job Methode Training (Latihan yang berhubungan dengan penyederhanaan kerja) Job Relation Training (Latihan yang berhubungan dengan faktor manusian di dalam pekerjaannya setiap hari)

    c. Latihan di luar tempat kerja : merupakan latihan yang diadakan di luar tempat kerja. Salah satu keuntungan dari latihan ini adalah adanya motivasi dari para peserta latihan untuk lebih memahami materi/bahan pelajaran mengingat mereka tidak dibebani dengan pekerjaan selama mereka mengikuti latihan.

    d. Latihan di tempat kerja tiruan : adalah latihan yang diberikan pada tempat kerja tiruan. Latihan ini umumnya diberikan kepada mereka yang bekerja di tempat-tempat kerja yang membawa risiko cukup besar. Dengan latihan ini diharapkan para peserta lebih banyak menguasai tentang teknik-teknik kerja yang baik.



    I. Pengertian Kepemimpinan


    Kepemimpinan adalah proses memengaruhi atau memberi contoh oleh pemimpin kepada pengikutnya dalam upaya mencapai tujuan organisasi. Cara alamiah mempelajari kepemimpinan adalah "melakukannya dalam kerja" dengan praktik seperti pemagangan pada seorang seniman ahli, pengrajin, atau praktisi. Dalam hubungan ini sang ahli diharapkan sebagai bagian dari peranya memberikan pengajaran/instruksi.

    Kebanyakan orang masih cenderung mengatakan bahwa pemimipin yang efektif mempunyai sifat atau ciri-ciri tertentu yang sangat penting misalnya, kharisma, pandangan ke depan, daya persuasi, dan intensitas. Dan memang, apabila kita berpikir tentang pemimpin yang heroik seperti Napoleon, Washington, Lincoln, Churcill, Sukarno, Jenderal Sudirman, dan sebagainya kita harus mengakui bahwa sifat-sifat seperti itu melekat pada diri mereka dan telah mereka manfaatkan untuk mencapai tujuan yang mereka inginkan.



    J. Tipe-tipe Kepemimpinan Teori-Teori Kepemimpinan


    Dalam berorganisasi tentu kita mempunyai seorang pemimpin, dan tentunya mempunyai cara kepemimpinan yang khas. Berikut tipe-tipe kepemimpinan tersebut.


    A. Tipe-Tipe Kepemimpinan

    Pada umumnya para pemimpin dalam setiap organisasi dapat diklasifikasikan menjadi lima type utama yaitu sebagai berikut :

    1. Tipe pemimpin otokratis
    2. Tipe pemimpin militeristik
    3. Tipe pemimpin paternalistis
    4. Tipe pemimpin karismatis
    5. Tipe pemimpin demokratis

    Berikut penjabaran singkatnya:

    1. Tipe Pemimpin Otokratis

    Tipe pemimpin ini menganggap bahwa pemimpin adalah merupakan suatu hak.
    Ciri-ciri pemimpin tipe ini adalah sebagai berikut :
    a. Menganggap bahwa organisasi adalah milik pribadi
    b. Mengidentikkan tujuan pribadi dengan tujuan organisasi.
    c. Menganggap bahwa bawahan adalah sebagai alat semata-mata
    d. Tidak mau menerima kritik, saran dan pendapat dari orang lain karena dia menganggap dialah yang paling benar.Selalu bergantung pada kekuasaan formal

    Dalam menggerakkan bawahan sering mempergunakan pendekatan (Approach) yang mengandung unsur paksaan dan ancaman.
    Dari sifat-sifat yang dimiliki oleh tipe mimpinan otokratis tersebut di atas dapat diketahui bahwa tipe ini tidak menghargai hak-hak dari manusia, karena tipe ini tidak dapat dipakai dalam organisasi modern.


    2. Tipe Kepemimpinan Militeristis

    Perlu diparhatikan terlebih dahulu bahwa yang dimaksud dengan seorang pemimpin tipe militeristis tidak sama dengan pemimpin-pemimpin dalam organisasi militer. Artinya tidak semua pemimpin dalam militer adalah bertipe militeristis.

    Seorang pemimpin yang bertipe militeristis mempunyai sifat-sifat sebagai berikut :
    a. Dalam menggerakkan bawahan untuk yang telah ditetapkan, perintah mencapai tujuan digunakan sebagai alat utama.
    b. Dalam menggerakkan bawahan sangat suka menggunakan pangkat dan jabatannya.Senang kepada formalitas yang berlebihan.
    c. Menuntut disiplin yang tinggi dan kepatuhan mutlak dari bawahan
    d. Tidak mau menerima kritik dari bawahan
    e. Menggemari upacara-upacara untuk berbagai keadaan.

    Dari sifat-sifat yang dimiliki oleh tipe pemimpin militeristis jelaslah bahwa tipe pemimpin seperti ini bukan merupakan pemimpin yang ideal.


    3. Tipe Pemimpin Paternalistis

    Tipe kepemimpinan fathornalistis, mempunyai ciri tertentu yaitu bersifat fathernal atau kepakan.ke Pemimpin seperti ini menggunakan pengaruh yang sifat kebapaan dalam menggerakkan bawahan mencapai tujuan. Kadang-kadang pendekatan yang dilakukan sifat terlalu sentimentil.

    Sifat-sifat umum dari tipe pemimpin paternalistis dapat dikemukakan sebagai berikut:
    a. Menganggap bawahannya sebagai manusia yang tidak dewasa.
    b. Bersikap terlalu melindungi bawahanJarang memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk mengambil keputusan. Karena itu jarang dan pelimpahan wewenang.
    c. Jarang memberikan kesempatan kepada bawahannya tuk mengembangkan inisyatif daya kreasi.
    d. Sering menganggap dirinya maha tau.

    Harus diakui bahwa dalam keadaan tertentu pemimpin seperti ini sangat diperlukan. Akan tetapi ditinjau dari segi sifat-sifat negatifnya pemimpin faternalistis kurang menunjukkan elemen kontinuitas terhadap organisasi yang dipimpinnya.


    4. Tipe Kepemimpinan Karismatis

    Sampai saat ini para ahli manajemen belum berhasil menamukan sebab-sebab mengapa seorang pemimin memiliki karisma. Yang diketahui ialah tipe pemimpin seperti ini mampunyai daya tarik yang amat besar, dan karenanya mempunyai pengikut yang sangat besar. Kebanyakan para pengikut menjelaskan mengapa mereka menjadi pengikut pemimpin seperti ini, pengetahuan tentang faktor penyebab Karena kurangnya seorang pemimpin yang karismatis, maka sering hanya dikatakan bahwa pemimpin yang demikian diberkahi dengan kekuatan gaib (supernatural powers), perlu dikemukakan bahwa kekayaan, umur, kesehatan profil pendidikan dan sebagainya. Tidak dapat digunakan sebagai kriteria tipe pemimpin karismatis.


    5. Tipe Kepemimpinan Demokratis

    Dari semua tipe kepemimpinan yang ada, tipe kepemimpinan demokratis dianggap adalah tipe kepemimpinan yang terbaik. Hal ini disebabkan karena tipe kepemimpinan ini selalu mendahulukan kepentingan kelompok dibandingkan dengan kepentingan individu.

    Beberapa ciri dari tipe kepemimpinan demokratis adalah sebagai berikut:
    a. Dalam proses menggerakkan bawahan selalu bertitik tolak dari pendapat bahwa manusia itu adalah mahluk yang termulia di dunia.
    b. Selalu berusaha menselaraskan kepentingan dan tujuan pribadi dengan kepentingan organisasi.
    c. Senang menerima saran, pendapat dan bahkan dari kritik bawahannya.
    d. Mentolerir bawahan yang membuat kesalahan dan berikan pendidikan kepada bawahan agar jangan berbuat kesalahan dengan tidak mengurangi daya kreativitas, inisyatif dan prakarsa dari bawahan.
    e. Lebih menitik beratkan kerjasama dalam mencapai tujuan.
    Selalu berusaha untuk menjadikan bawahannya lebih sukses daripadanya.
    f. Berusaha mengembangkan kapasitas diri pribadinya sebagai pemimpin.

    Dari sifat-sifat yang harus dimiliki oleh pemimpin tipe demokratis, jelaslah bahwa tidak mudah untuk menjadi pemimpin demokratis.


    B. Teori Kepemimpinan

    Beberapa teori telah dikemukakan para ahli majemen mengenai timbulnya seorang pemimpin. Teori yang satu berbeda dengan teori yang lainnya.
    Di antara berbagai teori mengenai lahirnya paling pemimpin ada tiga di antaranya yang paling menonjol yaitu sebagai berikut :

    1. Teori Genetie

    Inti dari teori ini tersimpul dalam mengadakan "leaders are born and not made". bahwa penganut teori ini mengatakan bahwa seorang pemimpin akan karena ia telah dilahirkan dengan bakat pemimpin.Dalam keadaan bagaimana pun seorang ditempatkan pada suatu waktu ia akn menjadi pemimpin karena ia dilahirkan untuk itu. Artinya takdir telah menetapkan ia menjadi pemimpin.

    2. Teori Sosial

    Jika teori genetis mengatakan bahwa "leaders are born and not made", make penganut-penganut sosial mengatakan sebaliknya yaitu :
    "Leaders are made and not born".
    Penganut-penganut teori ini berpendapat bahwa setiap orang akan dapat menjadi pemimpin apabila diberi pendidikan dan kesempatan untuk itu.

    3. Teori Ekologis

    Teori ini merupakan penyempurnaan dari kedua teori genetis dan teori sosial. Penganut-ponganut teori ini berpendapat bahwa seseorang hanya dapat menjadi pemimpin yang baik apabila pada waktu lahirnya telah memiliki bakat-bakat kepemimpinan, bakat mana kemudian dikembangkan melalui pendidikan yang teratur dan pangalaman-pengalaman yang memungkinkannya untuk mengembangkan lebih lanjut bakat-bakat yang memang telah dimilikinya itu.

    Teori ini menggabungkan segi-segi positif dari kedua teori genetis dan teori sosial dan dapat dikatakan teori yang paling baik dari teori-teori kepemimpinan.Namun demikian penyelidikan yang jauh yang lebih mendalam masih diperlukan untuk dapat mengatakan secara pasti apa faktor-faktor yang menyebabkan seseorang timbul sebagai pemimpin yang baik.



    Refferences:

    http://id.wikipedia.org/wiki/Komunikasi
    http://hayyunaafy.wordpress.com/my-document/hambatan-komunikasi/
    http://bondynamikaze.blogspot.com/2013/01/faktor-faktor-perubahan-organisasi.html
    http://kanissaputri.blogspot.com/2013/11/faktok-faktor-perubahan-organisasi.html
    http://rosdianya.wordpress.com/2011/12/20/ciri-ciri-pengembangan-organisasi/
    http://putrarankkuty.blogspot.com/2013/01/metode-perkembangan-organisasi.html
    http://aloel129.blogspot.com/2012/05/tipe-tipe-kepemimpinan-teori.html

    Teori Organisasi Umum 1 - Tugas 2

    A. Tipe atau Bentuk Organisasi

    Tipe Organisasi Didefinisikan sebagai mekanisme-mekanisme formal organisasi yang sudah diolah. Struktur ini terdiri dari unsur spesialisasi kerja, standarisasi, koordinasi, sentralisasi atau desentralisasi dalam pembuatan keputusan dan ukuran satuan kerja.

    Faktor-faktor yang menentukan perancangan tipe organisasi yaitu :
    - Strategi organisasi pencapaian tujuan.
    - Perbedaan teknologi yang digunakan untuk memproduksi output.
    - Kemampuan dan cara berpikir.
    - Besarnya organisasi dan satuan kerjanya mempengaruhi struktur organisasi.

    Unsur-unsur tipe organisasi terdiri dari :
    - Spesialisasi kegiatan
    - Koordinasi kegiatan
    - Standarisasi kegiatan
    - Sentralisasi dan desentralisasi pembuatan keputusan
    - Ukuran satuan kerja

    Bentuk-bentuk Organisasi Bagan organisasi memperlihatkan tentang susunan fungsi-fungsi dan departementasi yang menunjukkan hubungan kerja sama. Bagan ini menggambarkan lima aspek utama suatu struktur organisasi, yaitu :
    - Pembagian kerja
    - Rantai perintah
    - Tipe pekerjaan yang dilaksanakan
    - Pengelompokan segmen-segmen pekerjaan
    - Tingkatan manajemen

    Adapun cara penggambaran bagan struktur organisasi menurut Henry G. Hodges dapat digambarkan sebagai berikut :
    - Bentuk Piramidal
    - Bentuk Vertikal
    - Bentuk Horisontal
    - Bentuk Melingkar 


    B. Struktur atau Skema Organisasi

    Struktur organisasi adalah sekumpulan komponen-komponen (unit-unit kerja) yang telah disusun dalam organisasi. Struktur organisasi berguna untuk menunjukkan adanya beberapa pembagian kerja dan menunjukkan bagaimana fungsi-fungsi atau kegiatan-kegiatan yang berbeda-beda agar bisa dikoordinasikan . Selain itu struktur organisasi juga menunjukkan spesialisasi-spesialisasi pekerjaan, saluran perintah dan penyampaian laporan.

    Struktur Organisasi juga merupakan suatu kerangka yang menunjukkan seluruh kegiatan-kegiatan yang bertujuan untuk mencapai tujuan organisasi, yang berhubungan dengan fungsi, wewenang dan tanggung jawab untuk mencerminkan mekanisme-mekanisme formal pada pengelolaan organisasi

    Menurut Keith Davis ada 6 bagan bentuk struktur organisasi yaitu :

    1.Bentuk Vertikal
    Dalam bentuk ini, sistem organisasi pimpinan sampai organisasi atau pejabat yang lebih rendah digariskan dari atas ke bawah secara vertikal.

    2.Bentuk Mendatar / Horizontal
    Dalam bentuk ini, saluran wewenangnya dari pucuk pimpinan sampai dengan satuan organisasi atau pejabat yang terendah disusun atau digariskan dari kiri kea rah kanan atau sebaliknya.

    3.Bentuk Lingkaran
    Dalam bentuk lingkaran, saluran wewenangnya dari pucuk pimpinana sampai dengan satuan organisasi atau pejabat yang terendah disusun dari pusat lingkaran ke aarah bidang lingkaran.

    4.Bentuk Setengah Lingkaran
    Dalam bentuk ini, saluran wewenang dari pucuk pimpinan sampai dengan satuan organisasi atau pejabat yang terendah disusun dari pusat lingkaran kea rah bidang bawah lingkaran atau sebaliknya

    5.Bentuk Elliptical
    Dalam bentuk ini, saluran wewenangnya dari pucuk pimpinan sampai dengan satuan organisasi atau pejabat yang terendah digambarkan dengan pusat Elips kearah bidang elips

    6.Bentuk Piramid terbalik
    Dalam bentuk ini, saluran wewenang dari pucuk pimpinan sampai dengan organisasi atau pejabat terendah digambarkan dalam susunan berbentuk piramid terbalik.
    Skema atau bagan organisasi adalah suatu lukisan tentang organisasi yang dimaksudkan untuk menggambarkan susunan dari organisasi baik mengenai fungsi, bidang, tingkatan maupun rentang kendalinya.

    Macam-macam Skema Organisasi:

    1. Skema Organisasi Fungsional: Dalam skema organisasi fungsional, menjelaskan tentang letak dari fungsi-fungsi tugas dalam hubungannya dengan fungsi-fungsi yang lain.

    2. Skema Organisasi Jabatan Dalam skema organisasi jabatan, menjelaskan tentang garis wewenang yang harus dianut sesuai dengan jabatan masing-masing.

    3. Skema Organisasi Nama Dalam skema organisasi nama, menjelaskan tentang garis wewenang yang harus dianut sesuai dengan nama-nama para pejabat yang bersangkutan.

    4. Skema Organisasi Nama dan Jabatan Dalam skema organisasi nama dan jabatan, menggabungkan antara masing-masing jabatan dengan masing-masing nama para pejabat dalam suatu organisasi.

    5. Skema Organisasi Struktur Dalam skema organisasi truktur, menjelaskan tingkatan jenjang antara unit-unit dalam organisasi tersebut


    Berdasarkan teknik atau cara membuatnya:

    1. Skema organisasi Tegak Lurus dari atas kebawah
    2. Skema organisasi Mendatar dari kiri kekanan
    3. Skema organisasi gabungan Tegak Lurus dan Mendatar
    4. Skema Organisasi Lingkaran
    5. Skema Organisasi Gambar




    C. Pengertian konflik

    Konflik adalah adanya pertentangan yang timbul di dalam seseorang (masalah intern) maupun dengan orang lain (masalah ekstern) yang ada di sekitarnya. Konflik dapat berupad perselisihan (disagreement), adanya keteganyan (the presence of tension), atau munculnya kesulitan-kesulitan lain di antara dua pihak atau lebih. Konflik sering menimbulkan sikap oposisi antar kedua belah pihak, sampai kepada mana pihak-pihak yang terlibat memandang satu sama lain sebagai pengahalang dan pengganggu tercapainya kebutuhan dan tujuan masing-masing.

    Substantive conflicts merupakan perselisihan yang berkaitan dengan tujuan kelompok,pengalokasian sumber dalam suatu organisasi, distrubusi kebijaksanaan serta prosedur serta pembagaian jabatan pekerjaan.

    Emotional conflicts terjadi akibat adanya perasaan marah, tidak percaya, tidak simpatik, takut dan penolakan, serta adanya pertantangan antar pribadi (personality clashes).
    Dalam sebuah organisasi, pekerjaan individual maupun sekelompok pekerja saling berkait dengan pekerjaan pihak-pihak lain. Ketika suatu konflik muncul di dalam sebuah organisasi, penyebabnya selalu diidentifikasikan dengan komunikasi yang tidak efektif yang menjadi kambing hitam.



    D. Jenis dan sumber konflik

    A. Jenis Konflik

    Menurut Dahrendorf, konflik dibedakan menjadi 6 macam :

    a. Konflik antara atau dalam peran sosial (intrapribadi), misalnya antara peranan-peranan dalam keluarga atau profesi (konflik peran (role))
    b. Konflik antara kelompok-kelompok sosial (antar keluarga, antar gank).
    c. Konflik kelompok terorganisir dan tidak terorganisir (polisi melawan massa).
    d. Konflik antar satuan nasional (kampanye, perang saudara)
    e. Konflik antar atau tidak antar agama
    f. Konflik antar politik.
    g. konflik individu dengan kelompok


    B. Sumber Konflik

    a.) Perbedaan individu, yang meliputi perbedaan pendirian dan perasaan.
    Setiap manusia adalah individu yang unik. Artinya, setiap orang memiliki pendirian dan perasaan yang berbeda-beda satu dengan lainnya. Perbedaan pendirian dan perasaan akan sesuatu hal atau lingkungan yang nyata ini dapat menjadi faktor penyebab konflik sosial, sebab dalam menjalani hubungan sosial, seseorang tidak selalu sejalan dengan kelompoknya. Misalnya, ketika berlangsung pentas musik di lingkungan pemukiman, tentu perasaan setiap warganya akan berbeda-beda. Ada yang merasa terganggu karena berisik, tetapi ada pula yang merasa terhibur.

    b.) Perbedaan latar belakang kebudayaan sehingga membentuk pribadi-pribadi yang berbeda.
    Seseorang sedikit banyak akan terpengaruh dengan pola-pola pemikiran dan pendirian kelompoknya. Pemikiran dan pendirian yang berbeda itu pada akhirnya akan menghasilkan perbedaan individu yang dapat memicu konflik.

    c.) Perbedaan kepentingan antara individu atau kelompok.
    Manusia memiliki perasaan, pendirian maupun latar belakang kebudayaan yang berbeda. Oleh sebab itu, dalam waktu yang bersamaan, masing-masing orang atau kelompok memiliki kepentingan yang berbeda-beda. Kadang-kadang orang dapat melakukan hal yang sama, tetapi untuk tujuan yang berbeda-beda. Sebagai contoh, misalnya perbedaan kepentingan dalam hal pemanfaatan hutan. Para tokoh masyarakat menanggap hutan sebagai kekayaan budaya yang menjadi bagian dari kebudayaan mereka sehingga harus dijaga dan tidak boleh ditebang. Para petani menbang pohon-pohon karena dianggap sebagai penghalang bagi mereka untuk membuat kebun atau ladang. Bagi para pengusaha kayu, pohon-pohon ditebang dan kemudian kayunya diekspor guna mendapatkan uang dan membuka pekerjaan. Sedangkan bagi pecinta lingkungan, hutan adalah bagian dari lingkungan sehingga harus dilestarikan. Di sini jelas terlihat ada perbedaan kepentingan antara satu kelompok dengan kelompok lainnya sehingga akan mendatangkan konflik sosial di masyarakat. Konflik akibat perbedaan kepentingan ini dapat pula menyangkut bidang politik, ekonomi, sosial, dan budaya. Begitu pula dapat terjadi antar kelompok atau antara kelompok dengan individu, misalnya konflik antara kelompok buruh dengan pengusaha yang terjadi karena perbedaan kepentingan di antara keduanya. Para buruh menginginkan upah yang memadai, sedangkan pengusaha menginginkan pendapatan yang besar untuk dinikmati sendiri dan memperbesar bidang serta volume usaha mereka.
    d.) Perubahan-perubahan nilai yang cepat dan mendadak dalam masyarakat.
    Perubahan adalah sesuatu yang lazim dan wajar terjadi, tetapi jika perubahan itu berlangsung cepat atau bahkan mendadak, perubahan tersebut dapat memicu terjadinya konflik sosial. Misalnya, pada masyarakat pedesaan yang mengalami proses industrialisasi yang mendadak akan memunculkan konflik sosial sebab nilai-nilai lama pada masyarakat tradisional yang biasanya bercorak pertanian secara cepat berubah menjadi nilai-nilai masyarakat industri. Nilai-nilai yang berubah itu seperti nilai kegotongroyongan berganti menjadi nilai kontrak kerja dengan upah yang disesuaikan menurut jenis pekerjaannya. Hubungan kekerabatan bergeser menjadi hubungan struktural yang disusun dalam organisasi formal perusahaan. Nilai-nilai kebersamaan berubah menjadi individualis dan nilai-nilai tentang pemanfaatan waktu yang cenderung tidak ketat berubah menjadi pembagian waktu yang tegas seperti jadwal kerja dan istirahat dalam dunia industri. Perubahan-perubahan ini, jika terjadi seara cepat atau mendadak, akan membuat kegoncangan proses-proses sosial di masyarakat, bahkan akan terjadi upaya penolakan terhadap semua bentuk perubahan karena dianggap mengacaukan tatanan kehiodupan masyarakat yang telah ada.



    E. Strategi penyelesaian konflik

    Mengatasi konflik antara pihak-pihak yang bertikai tergantung pada kemauan pihak-pihak yang berkonflik untuk menyelesaikan masalah. Selain itu juga peran aktif dari pihak luar yang menginginkan redanya konflik.

    Berikut adalah cara-cara untuk mengatasi konflik yang telah terjadi :

    a. Rujuk
    merupakan usaha pendekatan demi terjalinnya hubungan kerjasama yang lebih baik demi kepentingan bersama pula.

    b. Persuasi
    mengubah posisi pihak lain, dengan menunjukan kerugian yang mungkin timbul, dan bukti factual serta dengan menunjukkan bahwa usul kita menguntungkan dan konsisten dengan norma dan standar keadilan yang berlaku.

    c. Tawar-menawar
    Suatu penyelesaian yang dapat diterima oleh kedua belah pihak dengan mempertukarkan kesepakatan yang dapat diterima.

    d. Pemecahan masalah terpadu
    Usaha pemecahan masalah dengan memadukan kebutuhan kedua belah pihak. Proses pertukaran informasi, fakta, perasaan, dan kebutuhan berlangsung secara terbuka dan jujur. Menimbulkan rasa saling percaya dengan merumuskan alternative pemecahan secara bersama dengan keuntungan yang berimbang bagi kedua pihak.

    e. Penarikan diri
    Cara menyelesaikan masalah dengan cara salah satu pihak yang bertikai menarik diri dari hubungan dengan pihak lawan konflik. Penyelesaian ini sangat efisien bila pihak-pihak yang bertikai tidak ada hubungan. Bila pihak-pihak yang bertikai saling berhubungan dan melengkapi satu sama lain, tentu cara ini tidak dapat dilakukan untuk menyelesaikan konflik.

    f. Pemaksaan dan penekanan
    Cara menyelesaikan konflik dengan cara memaksa pihak lain untuk menyerah. Cara ini dapat dilakukan apabila pihak yang berkonflik memiliki wewenang yang lebih tinggi dari pihak lainnya. Tetapi bila tidak begitu cara-cara seperti intimidasi, ancaman, dsb yang akan dilakukan dan tentu pihak yang lain akan mengalah secara terpaksa.



    F. Motivasi

    Motivasi adalah proses yang menjelaskan intensitas, arah, dan ketekunan seorang individu untuk mencapai tujuannya. Tiga elemen utama dalam definisi ini adalah intensitas, arah, dan ketekunan.

    Berdasarkan teori hierarki kebutuhan Abraham Maslow, teori X dan Y Douglas McGregor maupun teori motivasi kontemporer, arti motivasi adalah alasan yang mendasari sebuah perbuatan yang dilakukan oleh seorang individu. Seseorang dikatakan memiliki motivasi tinggi dapat diartikan orang tersebut memiliki alasan yang sangat kuat untuk mencapai apa yang diinginkannya dengan mengerjakan pekerjaannya yang sekarang. Berbeda dengan motivasi dalam pengertian yang berkembang di masyarakat yang seringkali disamakan dengan semangat, seperti contoh dalam percakapan "saya ingin anak saya memiliki motivasi yang tinggi". Statemen ini bisa diartikan orang tua tersebut menginginkan anaknya memiliki semangat belajar yang tinggi. Maka, perlu dipahami bahwa ada perbedaan penggunaan istilah motivasi di masyarakat. Ada yang mengartikan motivasi sebagai sebuah alasan, dan ada juga yang mengartikan motivasi sama dengan semangat.

    Dalam hubungan antara motivasi dan intensitas, intensitas terkait dengan seberapa giat seseorang berusaha, tetapi intensitas tinggi tidak menghasilkan prestasi kerja yang memuaskan kecuali upaya tersebut dikaitkan dengan arah yang menguntungkan organisasi. Sebaliknya elemen yang terakhir, ketekunan, merupakan ukuran mengenai berapa lama seseorang dapat mempertahankan usahanya.



    G. Teori motivasi

    Di tahun 1943, seorang psikologis dari Amerika; Abraham Maslow (1908-1970), menulis sebuah mahakaryanya yang sangat berpengaruh di bidang psikologi motivasi. Teori Motivasi Manusia adalah tulisan Maslow yang menjadi inspirasi bagi banyak kebijakan di beragam perusahaan modern untuk memotivasi para karyawannya.

    Maslow mengungkapkan berbagai tingkatan kebutuhan manusia, mulai dari kebutuhan fisik hingga psikologis. Dan bermacam kebutuhan ini, disusun dalam suatu piramida yang hirarkis, berdasarkan sifat kebutuhannya.
    Biasanya piramida Maslow ini berfokus pada lima tingkat kebutuhan, mulai dari yang mendasar untuk bertahan hidup hingga kepada kebutuhan sosial dan kebutuhan untuk mengembangkan diri di dalam kehidupan.

    Kelima tingkat kebutuhan tersebut adalah:

    a. Kebutuhan fisik untuk bertahan hidup seperti makanan, air, dan seterusnya.
    b. Kebutuhan akan keamanan seperti tempat tinggal serta kepastian keuangan, kesehatan yang terjaga, dan seterusnya.
    c. Kebutuhan untuk bersosialisasi dan saling menyayangi seperti berkeluarga, memiliki sahabat serta merasa menjadi bagian dari sesuatu, dan seterusnya.
    d. Kebutuhan untuk meninggikan harga diri seperti meraih prestasi atau pencapaian, meningkatkan rasa kebanggaan pribadi serta dihargai/dihormati oleh orang lain, dan seterusnya.
    e. Kebutuhan untuk mengaktualisasikan potensi diri untuk berkembang menjadi yang terbaik sesuai kata hati, mengoptimalkan kreativitas serta bakat untuk menjadi pakar atau inovator yang berguna bagi sesama, dan seterusnya.

    Kebutuhan yang kelima adalah kebutuhan yang spesial, yang khusus dan baru bisa dipenuhi jika keempat kebutuhan lainnya sudah terpenuhi.

    Sedangkan keempat kebutuhan sebelum kebutuhan untuk aktualisasi diri ini disebut kelompok kebutuhan defisiensi. Empat kebutuhan defisiensi ini jika tidak terpenuhi akan menjadi demotivator yang berbahaya bagi semangat seseorang.

    Maka dari itu, jika suatu perusahaan ingin mencegah penurunan semangat kerja dari para karyawannya, maka manajemen harus memperhatikan pemenuhan keempat kebutuhan defisiensi ini.

    Level motivasi akan terjaga dengan stabil jika keempat kebutuhan defisiensi ini tidak kekurangan. Namun, jika kurang terpenuhi, motivasi seseorang dipastikan jadi merosot.

    Ini berarti memenuhi kebutuhan fisik seperti makan dan beristirahat, kebutuhan akan keamanan, kebutuhan sosial seperti pertemanan dan keintiman, kebutuhan ego seperti pengakuan, dan seterusnya adalah penting untuk menjaga kestabilan tingkat motivasi seseorang.

    Tapi, untuk seseorang agar bisa berkembang dan terus maju, kebutuhan kelima yaitu pengaktualisasian diri perlu diperhatikan. Kebutuhan kelima ini adalah kebutuhan yang membuat seseorang termotivasi untuk memperbaiki kualitas diri dan meningkatkan kinerjanya. Maka dari itu, kebutuhan kelima ini disebut juga sebagai kebutuhan untuk bertumbuh.

    Pemenuhan kebutuhan pertumbuhan dan pemaksimalan potensi diri ini penting untuk disadari dan dipahami. Sayangnya, banyak orang yang tidak menyadari perlunya pemenuhan kebutuhan kelima ini dan akhirnya menjadi sering stres karena kecemasan dan depresi, frustasi karena merasa hampa dan tidak bermakna.

    Dan parahnya lagi, hanya sedikit perusahaan yang benar-benar memperdulikan kebutuhan karyawan untuk mengaktualisasikan dirinya, kebutuhan kelima. Karyawan menjadi kurang termotivasi, tidak semangat kerja karena tidak memiliki tujuan hidup yang berarti.

    Banyak perusahaan hanya memperhatikan empat kebutuhan defisiensi saja. Akibatnya, kinerja yang dihasilkan kurang produktif dan tidak mencapai hasil yang terbaik. Oleh karenanya, kebutuhan kelima sebagai kebutuhan yang tertinggi perlu juga diperhatikan, selain keempat kebutuhan defisiensi yang wajib dipenuhi.

    Jika aktualisasi diri ini diwujudkan, seseorang akan mendapati dirinya dalam suatu proses yang transenden. Ia akan mencapai kedewasaan spiritual, yang tidak fanatik tapi malah bisa menciptakan sinergi dengan kepemimpinannya.

    Dan jika perusahaan bisa memberikan peluang dan sarana untuk seseorang bisa memenuhi kebutuhan aktualisasi dirinya, perusahaan tersebut akan memiliki kesempatan besar untuk berhasil mencapai kesuksesan yang berkelanjutan karena mampu mencetak para pemimpin yang kompeten dan karyawan yang unggul dengan tingkat motivasi yang tinggi. Kunci dari motivasi yang tinggi ada di aktualisasi diri.



    H. Proses mempengaruhi

    Dalam perusahaan tentu adanya proses peran dari masing – masing pegawai dalam suatu perusahaan.Proses peranpun itu meliputi cara kerjanya perusahaan untuk mencari harapan yang terbaik.Dimana perusahaan bisa untuk berkembang dengan baik tanpa adanya hal untuk saling mempengaruhi.Peran itupun akan saling menunjang kemajuan perusahaan.Karena dengan adanya peran untuk saling mempengaruhi maka perusahaan akan saling terdapat komunikasi yang baik didalam menjalin etika yang formal.
    Dari sini akan tampak bahwa setiap perusahaan akan bisa mempengaruhi setiap pegawainya unutk melakukan hal yang terbaik.Berikut akan dijelaskan bagaimana peran proses mempengaruhi dalam suatu perusahaan.Proses mempengaruhi adalah suatu kegiatan atau keteladanan yang baik secara langsung atau tidak langsung mengakibatkan suatu perubahan perilaku dan sikap orang lain atau kelompok.sedangkan elemen – elemen nya adalah :
    a. orang yang mempengaruhi (0)‏
    b. metode mempengaruhi (→)‏
    c. orang yang dipengaruhi (p)‏
    Jadi proses mempengaruhi : 0 → p

    Jadi didalam data di atas tedapat timbal balik dalam suatu pengaruh untuk mempengaruhi seseorang.sedangkan metode untuk mempengaruhi adalah di antaranya :

    a. Kekuatan fisik
    b. Penggunaan sanksi (positif/negatif)‏
    c. Keahlian
    d. Kharisma (daya tarik)‏

    Daerah pengaruh mencakup hubungan-hubungan :
    a. Antara perseorangan
    b. Kelompok dengan seseorang
    c. Seseorang dengan kelompok

    Hubungan antara Kekuasaan dan Pengaruh
    a. Analisis French-Raven
    b. Analisis Etzioni
    c. Analisis Nisbel

    Dari data diatas bahwa dapat disimpulkan uatu perusahaan yang seharusnya adalah dimana perusahaan itu bisa mempengaruhi para pegawainya untuk mejadikan motivasi yang kuat guna menjadikan perusahaan yang besar.Dimana pengaruh nya perusahaan bisa sebagai insporator bagi para pegawainya.Selain itu pula harus terdapat kekuatan fisik untuk bisa mempengaruhi seseorang dan keahlian yang tepat guna tercapainya suatu tujuan.Terdapat pula bahwa mempengaruhi dalam perusahaan itu bisa dilakukan dengan berbagai macam caranya mulai dari antara perorangan,kelompok dengan seseorang,seseorang dengan kelompok.dan lain sebagainya.

    Jadi betapa penting jika suatu perusahaan bisa mempengaruhi para pegawainya untuk bisa berkerja seoptimal mungkin.Sehingga perusahaan pun akan demikian pesatnya mengalami kemajuan guna adanya sifat saling mempengaruhi.


    I. Proses Pengambilan Keputusan

    Proses pengambilan keputusan dalam organisasi ialah kumpulan yang terdiri dari beberapa orang untuk mencapai tujuan bersama, didalam organisasi rentan terjadinya selisih pendapat begitu juga keputusan dalam mengambil sikap, dapat diartikan cara organisasi dalam pengambilan keputusan. Terdapat 4 metode bagaimana cara organisasi dalam pengambilan keputusan, ke 4 metode tersebut adalah : yaitu Kewenangan Tanpa Diskusi (Authority Rule Without Discussion), Pendapat Ahli (Expert Opinion), Kewenangan Setelah Diskusi (Authority Rule After Discussion), Dan Kesepakatan (Consensus).

    1. Kewenangan Tanpa Diskusi

    Biasanya metode ini sering dilakukan oleh para pemimpin yang terkesan militer. mempunyai beberapa keuntungan jika seorang pemimpin menggunakan metode ini dalam pengambilan keputusan, yaitu cepat, maksudnya seorang pemimpin mempunyai keputusan ketika oraganisasi tidak mempunyai waktu yang cukup untuk menentukan atau memutuskan kebijakan apa yang harus diambil. Tetapi apabila metode ini sering dipakai oleh pemimpin akan memicu rasa kurang kepercayaan para anggota organisasi tersebut terhadap kebijakan yang telah diambil oleh pemimpin tanpa melibatkan para anggota yang lainnya dalam perumusan pengambilan keputusan.

    2. Pendapat Ahli

    Kemampuan setiap orang berbeda-beda, ada yang berkemampuan dalam hal politik, pangan, tekhnologi dan lain-lain, sangat beruntung jika dalam sebuah organisasi terdapat orang ahli yang kebetulan hal tersebut sedang dalam proses untuk diambil keputusan, pendapat seorang ahli yang berkopeten dalam bidangnya tersebut juga sangat membantu untuk pengambilan keputusan dalam organisasi.

    3. Kewenangan Setelah Diskusi

    Metode ini hampir sama dengan metode yang pertama, tapi perbedaannya terletak pada lebih bijaknya pemimpin yang menggunakan metode ini disbanding metode yang pertama, maksudnya sang pemimpin selalu mempertimbangkan pendapat atau opini lebih dari satu anggota organiasi dalam proses pengambilan keputusan. Terdapat kelemahan didalam metode ini, setiap anggota akan besaing untuk mempengaruhi pemimpin bahwa pendapatnya yang lebih perlu diperhatikan dan dipertimbangkan yang ditakutkan pendapat anggota tersebut hanya mamberikan nilai positif untuk dirinya dan merugikan anggota organisasi yang lai.

    4. Kesepakatan

    Dalam Metode ini, sebuah keputusan akan diambil atau disetujui jika didalam proses pengambilan keputusan telah disepakati oleh semua anggota organisasi, secara transparan apa tujuan, keuntungan bagi setiap anggota sehingga semua anggota setuju dengan keputusan tersebut. Negara yang demokratis biasanya akan menggunakan metode ini. Tetapi metode seperti ini tidak dapat berguna didalam keadaan situasi dan kondisi yang mendesak atau darurat disaat sebuah organisasi dituntut cepat dalam memberikan sebuah keputusan.

    Keempat metode-metode diatas ialah hasil menurut Adler dan Rodman, satu sama lainnya tidak dapat dikatakan metode satu terbaik yang digunakan dibanding metode yang lainnya, dapat dikatakan efektif jika metode yang mana yang paling cocok digunakan dalam keadaan dan situasi yang sesuai.

    Konsep Pengambilan Keputusan
    - Identifikasi dan diagnosis masalah
    - Pengumpulan dan analisis data yang relevan
    - Pengembangan & evaluasi alternative
    - Pemilihan alternatif terbaik
    - Implementasi keputusan & evaluasi terhadap hasil – hasil

    Tipe –Tipe Keputusan Manajemen
    - Keputusan-keputusan perseorangan dan strategi
    - Kepusan-keputusan pribadi & strategi
    - Keputusan-keputusan dasar & rutin

    Model-model Pengambilan Keputusan
    - Relationalitas Keputusan
    - Model- model perilaku pengambilan keputusan

    Teknik Pengambilan Keputusan
    - Teknik – teknik Kreatif: Brainstorming & Synectics
    - Teknik – teknik Partisipatif
    - Teknik – teknik pengambilan keputusan Modern : Teknik Delphi, Teknik Kelompok




    Refferences:

    https://sudrajatnurarifin.wordpress.com/2013/06/19/tipe-bentuk-organisasi/
    http://the-divider.blogspot.com/2013/03/pengertian-konflik.html
    http://teori-organisasi-umum-1.blogspot.com/2013/05/motivasi.html
    http://id.wikipedia.org/wiki/Motivasi
    http://chytgs.blogspot.com/2012/03/proses-mempengaruhi-pengambilan.html